• Pilih Kategori :

  • Pos-pos Terbaru

  • LEC Garut CustomerCare : . . Konsultasi Pendidikan : . . Konsultasi SDM : . . Konsultasi Perpustakaan : . . Konsultasi TIK / IT : .
  • KIRIM TULISAN

CLD

Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita,

dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka.

(Quantum Teaching, DePorter dan Hernacki, 2000) Pada bulan Februari 2005 sekolah SMP Plus HIKMAH meluncurkan sebuah produk pembelajaran dalam bentuk Classroom Display Dan Layout Display,  yang pada dasarnya adalah pembelajaran yang sistimatis yang dilakukan secara sengaja dan sadar. Kemudian dikembangkan sebagai wujud sekolah SMP Plus HIKMAH dalam mempromosikan Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan melalui jaringan kerjasama dengan Local Educational Center (LEC) Garut serta Lembaga Konsultan Pendidikan Internasional Ad-novation Surabaya. Bentuk jaringan kerjasama dapat berupa jaringan fisik maupun non-fisik. Bentuk jaringan kerjasama fisik misalnya dilakukan dalam bentuk: bedah sekolah,  workshop, saling berbagi pengetahuan (sharing of learning), learning group, learning for future, dan sebagainya. Bentuk jaringan kerjasama non-fisik dapat dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi yaitu internet.  Produk pembelajaran tersebut bisa juga berarti suatu ”proses menjadi” dan bukan kondisi yang ada saat ini. Dalam pengertian ini, produk pembelajaran lebih berdimensi proses, artinya menjadi model bagi sekolah SMP Plus HIKMAH dalam berproses menjadi sekolah bertaraf internasional seperti yang diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas.  Dalam perjalanan awalnya dimulai dari kelompok kerja kecil (tim kreatif: Kepala Sekolah, Pks. Kesiswaan, Pks. Sarana/prasarana, Pks. Kurikulum, dan Bendahara) serta dimulai dari lingkup kecil yang mengarah pada perubahan dengan spektrum yang lebih luas. Pada tahap awal ini, tim kreatif merumuskan prioritas kerja dalam rumusan Rencana Program Peningkatan Kinerja (RPPK) pada tiap-tiap komponennya dengan melibatkan semua warga sekolah untuk menganalisis situasi tempat berada secara bersama.    Perhatikan sekeliling kelas. Ketika siswa mengamati dinding kelas, apa yang mereka lihat? Kalender tahun lalu yang sudah menguning? Papan tulis yang terhapus sebagian? Majalah dinding yang memudar? Susunan buku dan kertas yang berantakan? Rak yang dilapisi debu tebal? Kaca-kaca jendela yang sudah tebal dilapisi debu? Atau mereka melihat lingkungan yang terartur dan bersih, sebagaimana mempersiapkan rumah kita untuk menyambut kedatangan tamu? Sebenarnya, siswa adalah ”tamu” kita, yang diundang untuk acara penting – belajar.Ketika benda-benda di kelas menarik perhatian siswa, apa yang dikatakannya? Asosiasi apa yang teringat akibat benda-benda tersebut? Di kelas yang tidak banyak mendapat perhatian guru, pesannya mungkin berbunyi,”Belajar itu kuno, melelahkan, dan usang”.Di lain pihak, lingkungan yang ditata rapi untuk mendukung belajar dapat berkata, ”Belajar itu segar, hidup, penuh semangat”. Apa yang dikatakan lingkungan kelas? Dari cara poster ditempelkan di dinding, pengaturan bangku, penyusunan bahan persediaan, hingga tingkat kebersihan kelas, semuanya berbicara. Segala sesuatu dalam lingkungan kelas menyampaikan pesan yang memacu atau menghambat belajar (Dhority, 1991).   A.    Lingkungan SekelilingSebuah gambar lebih berarti daripada seribu kata-kata. Jika kita menggunakan alat peraga dalam situasi belajar, akan terjadi hal yang menakjubkan. Bukan hanya mengawali proses belajar dengan cara merangsang modalitas visual, namun alat peraga juga secara harfiah menyalakan jalur saraf seperti kembang api di malam Lebaran. Beribu-ribu asosiasi tiba-tiba diluncurkan ke dalam kesadaran. Kaitan ini menyediakan konteks yang kaya untuk pembelajaran yang baru. B.      Pengaturan BangkuCara mengatur bangku memainkan peran penting dalam suasana belajar. Di sebagian besar ruang belajar, bangku siswa dapat disusun untuk mendukung tujuan belajar bagi pelajaran apa pun yang diberikan. Ada kebebasan untuk menyuruh siswa mengatur ulang bangku mereka untuk memudahkan jenis interaksi yang diperlukan. Untuk presentasi siswa, ajaran Guru, pemutaran video, dan lain-lain. Aturlah bangku sehingga siswa menghadap ke depan untuk membantu mereka tetap fokus ke depan. Untuk kerja kelompok, bangku di geserkan lagi saling berhadapan. Yang harus kita capai adalah fleksibilitas. C.    MusikMusik berpengaruh pada Guru dan siswa. Sebagai seorang Guru, kita dapat menggunakan musik untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar. Musik membantu siswa bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak. Musik merangsang, meremajakan, dan memperkuat belajar, baik secara sadar maupun tidak sadar. Di samping itu, kebanyakan siswa memang mencintai musik.Kita mungkin bertanya,”Mengapa musik?”. Irama, ketukan, dan keharmoniasan musik mempengaruhi fisiologi manusia, terutama gelombang otak dan detak jantung. Di samping membangkitkan perasaan dan ingatan (Lozanov, 1979). Musik dapat membantu siswa masuk ke keadaan belajar optimal. Musik juga memungkinkan kita membangun hubungan harmonis dengan siswa. Melalui musik, kita dapat ”berbicara dalam bahasa mereka”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: