• Pilih Kategori :

  • Pos-pos Terbaru

  • LEC Garut CustomerCare : . . Konsultasi Pendidikan : . . Konsultasi SDM : . . Konsultasi Perpustakaan : . . Konsultasi TIK / IT : .
  • KIRIM TULISAN

P T K

I.                  Penelitian Tindakan Kelas
Action research is a form of self-reflection enquiry undertaken by participants (teachers, Students, or principals, for example) in social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practises, and (c) the situational (and institutions) in which these practises are carried out.(McNiff, 1988)Pada masa lalu-dan mungkin juga saat ini-penelitian yang dilakukan dalam hubungannya dengan proses pengajaran di kelas kebanyakan dirancang, dikembangkan, dan dilakukan oleh peneliti non Guru, yaitu dosen atau peneliti lain. Misalkan; seorang dosen meneliti PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA AUDIO TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR MENDENGARKAN PEMAHAMAN (listening comprehension); atau seorang peneliti melakukan survei tentang KEEFEKTIFAN IMPLEMENTASI SILABUS BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA. Dalam penelitian semacam ini, untuk praktiknya disebut penelitian konvensional, guru kebanyakan hanya berperan sebagai responden, misalnya dengan berperan mengisi angket, atau pelaksana (enumerator) penelitian saja, yaitu sebagai pengumpul data di lapangan. Guru tidak pernah mendapat peran sebagai perancang penelitian, apalagi berperan sebagai pelaksana rancangannya. Singkatnya, Guru tidak pernah berperan sebagai peneliti. Dalam penelitian konvensional, ini acapkali terjadi demikian karena permasalahan yang diangkat dalam penelitian yang bersangkutan itu bukan ditinjau dar kacamata Guru, tetapi dari kacamata orang lain yang diarahkan pada kenyataan atau praktik di kelas. Bentuk penelitian semacam ini dapat berupa penelitian survei, penelitian eksperimental, penelitian evaluatif, atau jenis penelitian yang lain. Meskipun temuan macam-macam penelitian tersebut di atas tidak dipungkiri manfaatnya, nampaknya tindak lanjut yang didasarkan pada rekomendasi atas temuan penelitian tersebut sering tidak terealisasi atau bahkan kurang efektif. Penelitian konvensional semacam itu kurang tepat bagi Guru untuk pemecahan masalah praktis di kelasnya. Ini dapat dimengerti karena rekomendasi yang diajukan berdasarkan temuan penelitian konvensional sering bersifat global. Selain itu, ada kesan bahwa rekomendasi itu bukan sesuatu yang internal, yaitu sesuatu yang muncul akibat pengalaman pribadi si Guru yang benar-benar dapat dihayati pelaksanaannya. Karena rekomendasi tersebut berasal dari ’luar’ pihak Guru, diduga muncul anggapan bahwa rekomendasi tersebut bersifat instruktif, yaitu sesuatu yang harus dilakukan yang biasanya tidak dilandasi kesadaran mengapa hal tersebut harus dilakukan. Sekarang ini dalam dunia penelitian, ada satu jenis penelitian yaitu Penelitian  Tindakan Kelas, sehingga lebih tepat bagi Guru untuk pemecahan masalah praktis di kelasnya dimana pelakunya adalah Guru dalam konteks pengajarannya. Tidak seperti beberapa jenis penelitian konvensional tersebut di atas, masalah penelitian tindakan kelas diangkat oleh Guru, yang kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk intervensi untuk peningkatan keefektifan pengajarannya. Beberapa batasan mengenai Penelitian Tindakan Kelas telah diusulkan oleh beberapa ahli (misalnya Rappoport, 190; Kemmis, 1983; Kemmis dan Mc Taggart, 1988; Cross, 1990; Eliot, 1991) namun batasan yang banyak diacu adalah batasan yang dikemukan oleh Carr dan Kemmis (Mc Niff, 1988) sebagai berikut:Penelitian Tindakan Kelas sebenarnya adalah penelitian sosial. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki sasaran kajian yang berupa satuan-satuan sosial yangada dan berkembang di dalam masyarakat. Dengan kata lain, lingkup Penelitian Tindakan Kelas adalah satuan kemasyarakatan (sosial unit), atau sesuatu yang dianggap merupakan satuan yang bersifat kemasyarakatan. Dalam konteks Penelitian Tindakan Kelas, kelas dapat dianggap kesatuan yang memiliki ciri-ciri seperti yang dimiliki oleh pengertian masyarakat pada umumnya. Dari batasan yang dikemukakan oleh Carr dan Kemmis tersebut di atas secara khusus dapat dinyatakan kembali beberapa butir yang menarik dibahas, khususnya ynag berkaitan dengan konteks proses belajar mengajar di kelas sebagai berikut:            Pertama, Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu proses untuk memahami diri. Berdasarkan pernyataan ini dapat ditarik suatu pengertian bahwa Penelitian Tindakan Kelas mempunyai obyek dan subyek yang bertumpu pada sesuatu yang menjadi acuannya. Obyek yang merupakan sasaran penelitian dalam konteks ini dapat berarti orang, akibat perbuatan yang dilakukannya atau interaksi antara orang dan perbuatannya yang dilakukannya, sedangkan subyek dapat diartikan pelaku penelitian. Dengan kata lain, dalam Penelitian Tindakan Kelas ada peran ganda yang terjadi secara bersamaan: yang meneliti adalah juga mengandung aspek yang diteliti.             Kedua, pelaku penelitian ini adalah semua pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar: Guru, Siswa, dan Kepala Sekolah. Pernyataan ini dapat diartikan bahwa Penelitian Tindakan Kelas menuntut adanya syarat keterlibatan  si peneliti dan kerjasama dengan pihak lain yang terkait dalam proses pencarian.             McNiff (ibid) mengataKan bahwa Penelitian Tindakan Kelas mengandung pengertian pemecahan masalah yang bersama-sama dilakukan oleh baik si peneliti maupun pihak lain yang terlibat. Ini berarti bahwa Penelitian Tindakan Kelas juga mempunyai beberapa implikasi berikut; pertama, Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang berorientasi pada pemecahan masalah (problem solving) yang dihadapi oleh sekelompok masyarakat dalam menjalankan kehidupan kemasyarakatannya. Namun, tidak semua bentuk upaya pemecahan masalah adalah Penelitian Tindakan Kelas. Kedua, rasa kebersamaan dalam pemecahan masalah tersebut dapat timbul apabila sesuatu yang dianggap masalah dalam lingkup ’masyarakatnya’ tersebut dirasakan oleh semua anggota dalam masyarakat yang bersangkutan. Ketiga, dalam konteks kemasyarakatan seperti tersebut di atas, Penelitian Tindakan Kelas menuntut adanya ’pelopor’ pelaku tindakan yang harus memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan anggota masyarakat lainnya sehingga terjadi kebersamaan dalam pemecahan masalah yang sedang mereka dihadapi.             Dalam konteks kelas, misalnya, Penelitian Tindakan Kelas dapat melibatkan Guru dan para siswa yang secara bersama-sama berupaya memecahkan permasalahan yang sedang mereka hadapi di dalam proses belajar mengajar. Guru dan siswa mempunyai kesadaran bahwa mereka menghadapi permasalahan yang perlu pemecahannya secara bersama. Jadi penelitian ini bukan penelitian yang, misalnya, mendudukkan Guru sebagai peneliti, dan penelitian yang menempatkan siswa sebagai obyek penelitian tanpa mengikut sertakan mereka dalam pemecahan permasalahan yang ada.             Keempat, Penelitian Tindakan Kelas bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang apa yang sedang terkadi di kelas, pemahaman terhadap apa yang sedang terjadi di kelas, dan pemahaman situasi kelas itu sendiri. Selain itu, Penelitian Tindakan Kelas juga bertujuan untuk mempertinggi ketajaman kebijakan Guru dalam bertindak yang muncul sebagai akibat meningkatnya pencapaian ketiga tujuan tersebut, yaitu meningkatnya kesadaran Guru di kelas tentang apa yang sedang terjadi di kelas, pemahaman terhadap apa yang sedang terjadi di kelas, dan pemahaman situasi kelas itu sendiri. Penelitian Tindakan Kelas ini bukanlah penerapan metode ilmiah dalam pengajaran guna menguji hipotesis atau mengumpulkan data untuk mencari kecenderungan umum (generalisasi) seperti yang dilakukan oleh penelitian konvensional pada penelitian ilmu-ilmu alam, penelitian ilmuah, dan juga tidak seperti penelitian sejarah yang berupaya menginterprestasikan situasi. Penelitian Tindakan Kelas bertujuan untuk mengubah situasi ke arah yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: