• Pilih Kategori :

  • Pos-pos Terbaru

  • LEC Garut CustomerCare : . . Konsultasi Pendidikan : . . Konsultasi SDM : . . Konsultasi Perpustakaan : . . Konsultasi TIK / IT : .
  • KIRIM TULISAN

HASIL NUPTK 2009

Untuk mengetahui hasil NUPTK tahun 2009

bisa diketahui melalui SMS ke 

087882305419  atau  081381652810

dengan cara sebagai berikut : 

UNTUK PNS

Ketik : NUPTK(spasi)NIP(spasi)NAMA

Contoh : NUPTKCEKNIP 123456789  NAMANYA

 

UNTUK NON-PNS

Ketik : NUPTKCEKDAT(spasi)#TGL_LAHIR#NAMA_GURU#NAMA_SEKOLAH#KAB/KOTA/PROPINSI

Contoh :

NUPTKCEKDATA #01011972#NAMANYA#SMAN1GARUT#JAWABARAT

Jawaban akan diterima dalam 1×24 jam, bila tidak ada jawaban berarti NUPTK yang bersangkutan belum ada.

Terimakasih dan Selamat mencoba

 

Hari libur tahun 2009

Untuk tahun 2009 diperkirakan tidak terlalu banyak hari libur jadi bisa banyak karya yang dihasilkan.
Perkiraan Hari libur untuk tahun 2009 sebagai berikut :
1 Januari : Tahun Baru Masehi
26 Januari : Tahun Baru Imlek 2560
9 Maret : Maulid Nabi Muhammad SAW
26 Maret : Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1931
10 April : Wafat Yesus Kristus
9 Mei : Hari Raya Waisak Tahun 2553
21 Mei : Kenaikan Yesus Kristus
20 Juli : Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW
17 Agustus : Hari Kemerdekaan RI
21-22 September : Idul Fitri 1 Syawal 1430 Hijriyah
27 November : Idul Adha 1430 Hijriyah
18 Desember : Tahun Baru Hijriyah 1431 Hijriyah
25 Desember : Hari Raya Natal
Semoga bermanfaat

JADWAL PUASA 1429 H

Kami informasikan JADWAL IMSAKIYAH RAMADHAN 1429 H / 2008 M

Catatan ;

1.        JADWAL BERLAKU UNTUK WILAYAH JAKARTA DAN SEKITARNYA  (Dalam WIB), untuk daerah lain disesuaikan dengan perbedaan waktu setempat

2.        Sumber : Departemen Agama Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

3.        Dibuat oleh Temu Kerja Evaluasi Hisab Rukyat Departemen Agama RI tanggal 27-29 Februari 2008

4.        Penetapan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1429 H, menunggu pengumuman Menteri Agama RI

5.        Diperbolehkan memperbanyak dengan tujuan non komersial dengan menyebutkan sumbernya

6.        Memperbanyak untuk tujuan komersial harus mendapat izin tertulis dari Ketua Badan Hisab Rukyat Departemen Agama

 

Jakarta, 29 Februari 2008

Ketua Badan Hisab Rukyat

Departemen Agama RI

              TTD

Drs. H. Moh. Muchtar Ilyas  

NIP : 150 183 367

 

Pimpinan dan Seluruh Karyawan LEC Garut mengucapkan Marhaban Yaa Ramadhan

NUPTK

NOMOR UNIK PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN 2008 dapat diketahui dengan cara mencoba MASUK KE MENU DOWNLOAD UNTUK MELIHAT DAFTAR NUPTK di www.nuptk.info. Tim ICT Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga.

Berkenaan dengan program Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) khususnya Nomor Unik Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia serta seluruh guru (tenaga pendidik) dan karyawan (tenaga kependidikan) di seluruh Indonesia untuk turut berperan aktif dalam pemantauan data yang ditampilkan secara online di situs nuptk

Adapun untuk masukan dan laporan dari masyarakat dapat ditujukan langsung ke Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di wilayah kerja masing-masing. Peran aktif masyarakat akan sangat membantu proses validasi dan akurasi data-data yang dimaksud untuk masa depan online bagi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia.

Untuk mendapatkan NUPTK setiap PTK tidak dikenakan beban biaya (GRATIS) hanya saja wajib mengisi Format Instrumen NUPTK dengan lengkap dan benar serta di entri kedalam data base Sim-NUPTK, keberhasilan PTK mendapat NUPTK tergantung pada cara pengisian oleh PTK dan entri data oleh  sekolahnya masing-masing.

NUPTK Gerbang Menuju PTK Bermutu Dan Sejahtera, Mewujudkan Masa Depan Duania Pendidikan Republik Indonesia Lebih Baik.

Kepada pengguna (PTK), Kami sampaikan bahwa situs resmi NUPTK diterbitkan oleh Ditjen PMPTK,  Untuk mencoba silahkan akses ke : WWW.NUPTK.INFO

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN

  3 PILAR KEBIJAKAN DEPDIKNAS  :

  1. Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan
  2. Mutu, Relevansi, dan Daya Saing Pendidikan
  3. Pilar Kebijakan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Citra Publik Pendidikan

Lama

  1. Para guru memisahkan /memberikan identifikasi kepada para muridnya sebagai murid-murid yang bodoh disisi lain.
  2. Suasana kelas cenderung monoton dan membosankan , karena guru hanya bertumpu pada satu atau dua jenis kecerdasan dalam mengajar (cerdas berbahasa dan berlogika).
  3. Guru kesulitan dalam membangkitkan minat atau gairah murid dalam mempelajari  sebuah mata pelajaran.

 Sekarang

  1. Tidak ada murid yang bodoh! Setiap murid, hampir dapat dipastikan memiliki satu atau dua jenis kecerdasan yang sangat menonjol.(8 kecerdasan yang sangat menonjol) dan memiliki potensi untuk berprestasi dan setiap guru harus bisa membangun  sugesti positif di dalam kelas dan kemudian memunculkan minimal satu kecerdasan yang menonjol yang dimiliki setiap muridnya.
  2. Ada delapan cara untuk mengajar  yang bertumpu pada delapan jenis kecerdasan . Guru harus bisa membuat variasi-variasi yang sangat menggairahkan dan menyenangkan dalam mengajarkan sebuah mata pelajaran. Suasana kelas akan hidup, guru tidak akan kehabisan ide dan akan terus bersemangat untuk menciptakan hal-hal baru dikelasnya. Murid  diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mencari cara belajar yang sangat cocok dengan dirinya-apa pun mata pelajaran yang mereka pelajari.
  3. Guru masa kini tidak usah khawatir apabila ada seorang murid yg mempunyai kelemahan dalam mempelajari matematika, bahasa, ataupun mata pelajaran lain,pertama; murid memiliki satu atau dua jenis kecerdasan yang belum terdeteksi, kedua; cara guru mengajar tidak cocok dengan karakter murid, ketiga; minat murid terhadap mata pelajaran menurun drastis. Untuk mengatasinya guru dapat menceritakan tokoh-tokoh yang telah mengukir prestasi yang

CIRI PARADIGMA LAMA :

  1. AKU
  2. SENTRALISASI
  3. STATIS
  4. HASIL
  5. LINIER
  6. POHON
  7. TRADISIONAL
  8. MENOLAK PEROBAHAN
  9. BERPIKIR PARSIAL
  10. GEJALA
  11. MANUAL

 

CIRI PARADIGMA BARU :

  1. KITA
  2. DESENTRALISASI
  3. DINAMIS
  4. PROSES
  5. SISTEMIK
  6. HUTAN
  7. MODERN
  8. PELOPOR PEROBAHAN
  9. BERFIKIR MENYELURUH
  10. AKAR
  11. TEKNOLOGI TINGGI

 

TEAM WORK DI SEKOLAH

Istilah “Team”  merujuk kepada suatu kelompok yang bekerja sama untuk mencapai suatu misi atau tujuan tertentu. Team memiliki bentuk, misi, dan durasi yang beragam. Karolyn J. Snyder and Robert H. Anderson (1986) mengidentifikasi dua tipe team, yaitu team permanen dan team sementara. Team permanen mengkhususkan dalam fungsi tertentu yang dilakukan secara berkelanjutan. Sedangkan, team sementara merupakan team yang diorganisasikan hanya untuk kepentingan dan tujuan jangka pendek yang kemudian dapat dibubarkan kembali, setelah pekerjaan selesai. Biasanya bertugas menangani proyek yang bersifat sementara. Dengan mengutip pemikiran Cunningham and Gresso, Oswald (1996) mengemukakan dua faktor esensial dalam suatu team yang dapat semakin memantapkan budaya team (culture team), yaitu:

 

Bonding (ikatan) dan cohesiveness (kesatupaduan). Bonding  akan memastikan bahwa anggota team memiliki komitmen yang kuat, misalnya terhadap waktu, pengetahuan, keterampilan dan energi untuk mencapai tujuan team. Team yang terikat akan lebih enthusias, loyal kepada organisasi dan team itu sendiri. Para anggota dapat memulai proses pengikatan ini pada saat pertemuan (rapat) pertama kali, mereka menentukan tujuan, peran, dan tanggunggjawab individu dan kelompok.

 

Cohesiveness (kesatupaduan) didefinsiikan oleh Cunningham dan Gresso sebagai rasa kebersamaan dalam kelompok, yang ditandai oleh adanya rasa memiliki dan keterkaitan diantara sesama anggota. Langkah awal untuk membentuk sebuah team yang baik adalah setiap anggota terlebih dahulu harus memahami tujuan dan misi team secara jelas. Setiap anggota seharusnya mampu menjawab pertanyaan “ Mengapa saya berada disini”, demikian dikemukakan oleh Margot Helphand (1994). Berikutnya, menentukan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota.

Dalam hal ini, Yadi Heryadi mengemukakan beberapa peran penting dalam suatu Team :

 

1.Pencatat yaitu anggota Team yang bertugas mendokumentasikan semua kegiatan yang dilakukan oleh Team, termasuk mencatat hal-hal penting hasil rapat-rapat, serta membuat notulen rapat-rapat.

 

2.Pencatat Waktu yaitu anggota Team yang bertugas mengingatkan Team berjalan sesuai jadwal.

 

3.Penjaga Gawang yaitu anggota Team yang bertugas menyemangati anggota Team yang lain sehingga terjadi keseimbangan partisipasi seluruh anggota, dan

 

4.Devil’s advocate yaitu anggota Team yang pandangannya berbeda dengan pandangan anggota Team yang lain, sehingga isu isu yang ada dilihat dari berbagai sisi.

 

Dalam sebuah team work perlu adanya seorang ketua atau pemimpin yang bertugas untuk mengendalikan seluruh kegiatan team, baik dalam perencanaan, pengimplementasian, maupun penilaian. Ketua bisa dipilih oleh anggota atau ditunjuk oleh pihak yang memiliki kewenangan.  Yadi Haryadi mengetengahkan tentang ciri-ciri ketua dan anggota team yang baik. Ciri-ciri ketua team yang baik adalah:

 

•Bekerja sesuai konsensus

•Berbagi secara terbuka dan secara otentik dalam hal perasaan, opini, pendapat, pemikiran, dan persepsi seluruh anggota Team terhadap masalah dan kondisi

•Memberi kesempatan anggota dalam proses pengambilan keputusan

•Memberi kepercayaan penuh dan dukungan yang nyata terhadap anggota Team

•Mengakui masalah yang terjadi sebagai tanggung jawabnya keteam bang menyalahkan orang lain

•Pada waktu mendengarkan pendapat orang lain, berupaya untuk mendengar dan menginterpretasikan pendapat orang dari sudut pandang yang lain

•Berupaya mempengaruhi anggota dengan cara mengikutsertakan mereka dalam berbagai isu Sedangkan ciri-ciri anggota team yang baik adalah:

•Memberi semangat pada anggota Team yang lain untuk berfkembang

•Respek dan toleran terhadap pendapat berbeda dari orang lain

•Mengakui dan bekerja melalui konflik secara terbuka

•Memperteam bangkan dan menggunakan ide dan saran dari orang lain

•Membuka diri terhadap masukan (feedback ) atas perilaku dirinya

•Mengerti dan bertekad memenuhi tujuan dari Team

•Tidak memposisikan diri dalam posisi menang atau kalah terhadap anggota Team yang lain dalam melakukan kegiatan

•Memiliki kemampuan untuk mengerti apa yang terjadi dalam Team

 

Larry Lozette mengemukakan tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan team, yaitu : (1) anggota tidak memahami tujuan dan misi team, (2) anggota tidak memahami peran dan tanggung jawab yang dipikulnya, (3) anggota tidak memahami bagaimana mengerjakan tugas atau bagaimana bekerja sebagai bagian dari suatu team, (4) anggota menolak peran dan tanggung jawabnya.

 

Penerapan konsep Team Work dalam pendidikan, khususnya di sekolah akan muncul dalam berbagai bentuk. Snyder and Anderson, menyebutkan bahwa team work di sekolah, dapat berbentuk team manajemen (management team) yang akan membantu kepala sekolah dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah-masalah yang muncul di sekolah. Atau mungkin muncul dalam bentuk team khusus, yang mengerjakan tugas-tugas khusus pula, seperti: team pengembang kurikulum, team bimbingan dan konseling dan sebagainya, yang intinya teamteam tersebut dibentuk untuk kepentingan peningkatan mutu pelayanan pendidikan di sekolah.

 

Selain itu penerapan konsep team work dalam pendidikan dapat digunakan kepentingkan peningkatan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru, misalnya melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas, Lesson Study, atau supervisi.

 

Konsep team work telah diadopsi pula sebagai bagian dari strategi pembelajaran, yang dikenal dengan sebutan Collaborative Teamwork Learning, yaitu suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk untuk mengembangkan kemampuan siswa bekerja secara kolaboratif dalam Team. Terdapat beberapa alasan pentingnya penerapan konsep team work  di sekolah diantaranya : (1) dengan berusaha melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan, maka diharapkan setiap orang akan dapat lebih bertanggung jawab dalam mengimplementasikan setiap keputusan yang diambil, (2) setiap orang dapat saling belajar tentang berbagai pemikiran inovatif dari orang lain secara terus menerus, (3) informasi dan tindakan akan lebih baik jika datang dari sebuah kelompok dengan sumber dan keterampilan yang beragam, (4) memungkinkan terjadinya peningkatan karena setiap kesalahan yang terjadi akan dapat diketahui dan dikoreksi, dan (5) adanya keberanian mengambil resiko karena adanya kekuatan kolektif dari kelompok. 

 

Sumber :

Sandra A. Howard (1999), Guiding Collaborative Teamwork in The Classroom., Online : http://www.uncwil.edu/cte/et/articles/howard/

Lori Jo Oswald. (1996) Work Teams in Schools. ERIC Digest 103, Online : http://www.eric.ed.gov/ERICWebPortal/Home

Yadi Haryadi (tt).Team Work. (Bahan Presentasi Tim Pengembangan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah)M. Asrori.

Collaborative Teamwork Learning: Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan Kemampuan Mahasiswa Bekerja secara Kolaboratif dalam Tim. Online : http://www.depdiknas.go.id/

5 CARA GURU BELAJAR

Perubahan paradigma pendidikan yang cukup dramatis pada saat sekarang ini, mau tidak mau menuntut para guru untuk dapat menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan perubahan yang  ada. Salah satu cara yang efektif agar dapat menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan perubahan yang ada yaitu melalui belajar secara terus menerus. Dengan demikian, tuntutan untuk belajar tidak hanya terjadi pada siswa yang dibelajarkannya, tetapi guru itu sendiri pun justru dituntut untuk senantiasa belajar tentang bagaimana mengajar yang baik. Banyak cara yang bisa dilakukan guru untuk belajar, diantaranya:

 

1.Guru belajar dari praktik pembelajaran yang dilakukannya Cara belajar guru yang pertama ini dilakukan melalui usaha untuk senantiasa memonitor, menganalisis dan melakukan refleksi atas setiap praktik pembelajaran yang dilakukannya. Melalui cara seperti ini guru akan memperoleh  sejumlah pengetahuan dan pemahaman baru (the best practice) tentang siswa, sekolah, kurikulum, dan berbagai strategi pembelajaran. Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (1, 2) merupakan salah satu bentuk cara belajar guru semacam ini (Cochran-Smith and Lytle,1993).

 

2.Guru belajar melalui interaksi dengan guru lain Cara belajar guru yang kedua dapat dilakukan melalui interaksi dengan guru lain, baik secara formal maupun informal. Secara formal, misalnya melalui kegiatan mentoring (tutorial) yang dilakukan oleh guru senior yang berpengalaman terhadap guru baru (novice), berdasarkan penugasan secara resmidari sekolah. Dalam hal ini, guru baru dapat menimba berbagai pengetahuan dan keterampilan darimentornya (Feiman-Nemser and Parker, 1993). Sedangkan secara informal dapat dilakukan melalui kegiatan pembicaraan yang tidak resmi, misalnya pada saat berada di ruang guru, halaman sekolah dan tempat-tempat lainnya yang sifatnya tidak resmi. Bentuk lain belajar melalui interaksi dengan guru lain adalah melalui kegiatan MGMP/MGBK dan pertemuan profesional lainnya, dimana guru dapatsaling belajar dan berbagi pengetahuan. Kegiatan supervisi pembelajaran, baik oleh guru senior, kepala sekolah maupun pengawas sekolah, termasuk ke dalam kategori cara belajar ini. Demikian juga, program lesson study merupakan salah satu bentuk cara belajar guru melalui interaksi dengan guru lain.

 

3.Guru belajar melalui ahli/konsultan Cara yang ketiga, guru dapat belajar melalui ahli/konsultan. Dalam kegiatan ini, sekolah menyediakan seorang atau beberapa orang ahli/konsultan khusus dari luar untuk membelajarkan para guru di sekolah. Secara berkala, ahli/konsultan tersebut dihadirkan di sekolah untuk membelajarkan guru, misalnya dalam bentuk workshop atau layanan konsultasi. Melalui cara ini, para guru akan memperoleh pemahaman tentang berbagai inovasi pendidikan sekaligus memperoleh bimbingan dalam penerapannya. Dalam konteks ini, pengawas sekolah (educational supervisor) seyogyanya dapat diposisikan sebagai tenaga konsultan yang dibutuhkan untuk kepentingan peningkatan kemampuan guru.

 

4.Guru belajar melalui pendidikan lanjutan dan pendalaman Asumsi yang mendasari cara yang keempat ini, bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang diperoleh seseorang, semakin lebih baik pula tingkat kemampuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan kemampuan guru, seyogyanya guru didorong untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau mengikuti pendidikan pendalaman akademik. Pendidikan lanjutan artinya guru melanjutkan studi sesuai dengan bidangnya, misalkan seorang guru Bimbingan dan Konseling yang sudah memiliki tingkat pendidikan S1, kemudian dia melanjutkan lagi studinya ke S2 Program Magister Bimbingan dan Konseling, dan seterusnya. Sedangkan pendidikan pendalaman, bisa dilakukan melalui kursus-kursus dan pendidikan alternatif yang relevan. Misalnya, guru Ekonomi yang berlatarbelakang S1 Pendidikan Ekonomi, untuk pendalaman bidang akademiknya dia bisa mengikuti pendidikan S1 alternatif di Fakultas Ekonomi. Di samping memperoleh kemampuan yang lebih baik, kegiatan pendidikan lanjutan berkolerasi pula dengan tingkat penghasilannya (Renyi, 1996). Di Amerika, kegiatan pendidikan pendalaman banyak dilakukan pada musim summer atau setelah selesai jam sekolah. Demikian pula, di negara-negara tertentu, guru-guru banyak mengikuti program in service trainning dengan dititipkan (pencangkokan) di Perguruan Tinggi untuk beberapa lama.

5.Guru belajar melalui cara yang terpisah dari tugas profesionalnya. Cara yang kelima ini, guru belajar tentang hal-hal yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan tugas-tugas profesionalnya, seperti pengembangan kemampuan intelektual dan moral terkait perannya sebagai orang tua, mengikuti pelatihan sebagai pengurus organisasi di masyarakat, pelatihan kepemimpinan dalam bisnis dan sebagainya. “They learn about nondidactic forms of instruction

…”, demikian dikemukan oleh Lucido (1988).